Sabtu, 29 November 2008
Jumat, 28 November 2008
WASIAT AUN BIN ABDULLAH AL-HUDZALLI KEPADA PUTERANYA TENTANG MUHASABAH (EVALUAIS DIRI)
“Anakku, jadilah salah seorang yang jauhnya dari orang lain lantaran keyakinan dan membersihkan diri, kedekatannya kepada orang lain lantaran kelembutan dan kasih sayang, jauhnya lantaran kesombongan atau keangkuhan, dekatnya bukan lantaran tipu daya atau muslihat dengan lisan. Ia mengambil teladan dari orang-orang sebelumnya sekaligus menjadi panutan bagi orang-orang-sesudahnya, ilmu tidak samara, kebodohannya tidak terlihat dan ia tidak terburu-buru ingin memperoleh apa yang diharapkan. Ia memaafkan kesalahan yang jelas dikatahuinya, tidak melulu melihat kepada haknya, dan melebihkan kewajiban yang dilaksanakannya. Kebaikannya diharapkannya dan kejahatannya tidak dihawatirkan. Jika bersama orang-orang yang lalai, ia ditulis dalam golongan orang-orang yang ingat dan jika bersama orang-orang yang ingat ia tidak ditulis dalam golongan orang-orang yang lalai. Jika dipuji ia tidak merasa besar diri disebabkan oleh pujian orang yang tidak mengerti tentang dirinya. Ia tidak melupakan kekurangan diri yang telah diketahuimya. Ia takut terhadap perkataan mereka dan memohon ampun terhadap ketidak tahuan mereka. Ia mengatakan: “aku lebih mengerti tentang diriku daripada orang lain, sedangkan Alloh lebih tahu tenntang diriku daripada aku sendiri.” Ia merasa lambat dalam beramal. Ia melaksanakan amal shalih dengan diliputi rasa takut. Siang hari ia berdzikir, sore hari ia bersyukur, malam hari ia was-was dan pagi hari ia bergembira.(bersambung....)
Jumat, 21 November 2008
Wasiat Utbah bin Ghazwan kepada kaum muslimin
"Amma Ba'du,
Dunia telah mengumumkan kepunahannya, pergi dengan cepat dan tidak ada yang tinggal kecuali sedikit sisa-sisanya, sebagaimana air yang tersisa sedikit di bejana yang diminum oleh pemiliknya. Kamu sungguh akan berpindah ke suatu negeri yang tidak akan pernah musnah, maka berpindahlah dengan membawa sebaik-baik hal yang ada dihadapanmu.
Sesungguhnya, pernah diceritakan kepada kami bahwa sebuah batu dilemparkan dari mulut neraka jahannam, ia jatuh kedalamnya selama tujuh puluh tahun, tetapi belum juga mencapai dasarnya.
Demi Alloh, bahwa jahannam ini akan dipenuhi apakah kalian heran???
dan Pernah diceritakan kepada kami bahwa jarak antara dua sisi pintu di surga sejauh perjalanan empat puluh tahun dan sungguh akan datang suatu hari dimana ia terlihat penuh sesak.
Saya pernah mengalami bertujuh bersama rosululloh shallallohu 'alaihi wasallam, sedangkan kami tidak memiliki makanan selain daun pohon, sampai-sajavascript:void(0)mpai sudut bibir kami bernanah. Ketika itu saya mencari secarik burdah, kemudian saya sobek menjadi dua untuk saya dan untuk sa’ad bin Malik, lantas saya berselimut dengannya, sedangkan setengahnya dipake selimut oleh saad. Namun, pada hari ini, tidak seorangpun dari mereka kecuali telah menjadi pemimpin di salah satu negeri.
Saya berlindung kepada Alloh, jangan sampai saya merasa diri saya agung, padahal disisi Alloh adalah orang yang hina.
Tidak pernah ada suatu kenabian, kecuali datang silih berganti, sampai akhirnya ditutup dengan kerajaan. Kalian akan mengerti dan merasakan sendiri bagaimana para pemimpin setelah kami.
dikeluarkan oleh Imam Muslim)
Wasiat Sufyan Ats-Tsauri Kepada Abbad bin Abbad Al-Khawash
Sesungguhnya engkau sedang berada disuatu zaman yang para sahabat nabi shallallohu 'alaihi wasallam selalu berlindung kepada Alloh agar tidak menjumpainya, padahal mereka memiliki ilmu yang tidak kita miliki. Mereka juga memiliki keutamaan lebih dahulu masuk islam daripada kita. Bagaimana sikap kita ketika menjumpainya dengan ilmu yang sedikit, kesabaran yang sedikit, pendukung kebaikan yang sedikit, ummat manusia yang rusak, dan dunia yang kotor.
Hendaknya engkau mengikuti al-amrul awwal dan memegang teguh penahan generasi pertama. Jadilah al-khumul (orang yang tersembunyi), karena sekarang adalah zaman persembunyian. Menyendirilah dan jangan banyak bergaul dengan manusia. Dulu, jika orang-orang berjumpa, sebagian dari mereka memperoleh manfaat dari yang lain, adapun sekarang, hal semacam itu sudah tidak ada. Keselamatan sejauh yang saya ketahui, terletak dalam tindakan meninggalkan mereka.
Janganlah berdekatan dan bergaul dengan para pejabat dalam suatu perkara. Janganlah tertipu, jika dikatakan kepadamu: “dengan mendekati para pejabat engkau bisa menolong dengan memberikan pembelaan kepada orang-orang yang di dzolimi dan mencegah perbuatan dzolim.”
Itu adalah tipu daya iblis yang dipakai sebagai tangga pijakan oleh orang-orang yang ahli al-Qur’an yang banyak melakukan perbuatan dosa.
Ada yang mengatakan: “waspadalah terhadap fitnah tukang ibadah yang bodoh dan ulama yang bermaksiat, karena fitnah mereka adalah fitnah yang menimpa semua orang.
Pertanyaan atau fatwa apapun yang kamu dapati, maka manfaatkanlah jangan bersaing di dlamnya.
Jangan berlaku seperti orang yang suka apabila ucapannya dilaksanakan, atau didengarkan. Jika itu ditinggalkannya, maka ia akan dikenal mengenainya.
Jangan berambisi menjadi pemimpin, sebab ada orang yang lebih mencintai kepemimpinan dari emas dan perak, padahal ia adalah pintu samar yang tidak diketahui kecuali oleh para ulama.
Perhatikan dirimu dan bermalah dengan niat. Dan ketahuilah bhwa telah dekat kepada manusia perkara dimana seseorang merasa ingin mati. Wassalam.
(dikeluarkan oleh abu nu’aim dalam al-Hiliyah (VI:376-377) dan adz-dzahabi dalam siyaru A’lam An-Nubala’)
1. Yang dimaksud adalam para sahabat rasululloh shallallohu 'alaihi wasallam
2. yang dimaksud beliau adalah ‘uzlah sedikit bergaul dengan manusia, karena mereka sudah tidak bisa saling memberikan manfaat lagi, buknalah menjauhi manusia sama sekali, jika para da’I melakukan hal itu maka kapan orang-orang bodoh bisa belajar , orang-orang yang bingung bisa mendapatkan bimbingan, dan orang-orang yang dzalim itu mau kembali memperbaiki dirinya. Tidak diragukan lagi bahwa orang yang bergaul dengan manusia dan bersabar bila disakiti oleh mereka akan mendapatkan pahala yang agung.
Kamis, 20 November 2008
Fitnah Akhir zaman : Hadith Hudzaifah satu analisis
Oleh : Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali
terjemahan Nash Hadits.
"Artinya : Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Ta'ala Anhu berkata : Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'aljavascript:void(0)aihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya ; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan ? Beliau bersabda : 'Ada'. Aku bertanya : Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan ?. Beliau bersabda : Ya, akan tetapi didalamnya ada dakhanun. Aku bertanya : Apakah dakhanun itu ?. Beliau menjawab : Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?. Beliau bersabda : Ya, da'i - da'i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya : Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda : Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ?. Beliau bersabda : Berpegang teguhlah pada Jama'ah Muslimin dan imamnya. Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama'ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu". (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399).
Makna Hadits
1. Mengenali Sabilul Mujrimin adalah kewajiban Syar'i.
Perlu diketahui bahwa Manhaj Rabbani yang abadi yang tertuang dalam uslub Qur'ani yang diturunkan ke hati Penutup Para Nabi tersebut tidak hanya mengajarkan yang haq saja untuk mengikuti jejak orang-orang beriman (sabilul Mu'minin). Akan tetapi juga membuka kedok kebathilan dan menyingkap kekejiannya supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (sabilul Mujrimin).
Allah berfirman.
"Artinya : Dan demikianlah, kami jelaskan ayat-ayat, supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa". (Al-An'am : 55)
Yang demikian itu karena istibanah (kejelasan) jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (sabilul Mujrimin) secara langsung berakibat pada jelasnya pula sabilul mu'minin. Oleh karena itu istibanah (kejelasan) sabilul Mujrimin merupakan salah satu sasaran dari beberapa sasaran penjelasan ayat-ayat Rabbani. Karena ketidakjelasan sabilul Mujrimin akan berakibat langsung pada keraguan dan ketidakjelasan sabilul Muminin. Oleh karena itu, menyingkap rahasia kekufuran dan kekejian adalah suatu kebutuhan yang sangat mendesak untuk menjelaskan keimanan, kebaikan dan kemaslahatan.
Ada sebagian cendikiawan syair menyatakan.
"Artinya : Aku kenali keburukan tidak untuk berbuat buruk, akan tetapi untuk menjaga diri". "Barangsiapa yang tidak dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan, maka akan terjerumus ke dalamnya".
Hakikat inilah yang dimengerti oleh generasi pertama umat ini -Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu 'anhu. Maka ia berkata : "Manusia bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan, karena khawatir akan terjebak di dalamnya".
2. Kekuatan ummat Kita Dihancurkan dari Dalam
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda berkenan dengan keinginan kaum kafir untuk membinasakan kaum muslimin dan Islam, seperti yang dinyatakan dalam hadits Tsaubah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang : Apakah karena sedikitnya kami waktu itu ? Beliau bersabda : Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya : Wahai Rasulullah, apakah wahn itu ? Beliau bersabda : Mencintai dunia dan takut mati". (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na'im dalam Al-Hailah).
Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa :
Kaum kafir saling menghasung untuk menjajah Islam, negeri-negerinya serta penduduknya.
Negeri-negeri muslimin adalah negeri-negeri sumber kebaikan dan barakah yang mengundang air liur kaum kafir untuk menjajahnya.
Kaum kafir mengambil potensi alam negeri muslimin tanpa rintangan dan halangan sedikitpun.
Kaum kafir tidak lagi gentar terhadap kaum Muslimin karena rasa takut mereka kepada kaum Muslimin sudah dicabut Allah dari dalam hati mereka. Padahal pada mulanya Allah menjanjikan kepada kaum Muslimin dalam firman-Nya :
"Artinya : Akan kami jangkitkan di dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah, dimana Allah belum pernah menurunkan satu alasanpun tentangnya". ( Ali-Imran : 151).
Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda : "Artinya : Aku diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku : Aku ditolong dengan rasa ketakutan dengan jarak satu bulan perjalanan ; dan dijadikan bumi untukmu sebagai tempat sujud ; .... dan seterusnya ". (Riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari I/436. Muslim dalam Nawawi V/3-4 dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu 'anhu)
Akan tetapi kekhususan tersebut dibatasi oleh sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Tsauban yang lalu, yang menyatakan : "Allah akan mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian ...".
Dari hadits ini mengertilah kita bahwa kekuatan umat Islam bukanlah terletak pada jumlah dan perbekalannya, atau pada artileri dan logistiknya. Akan tetapi kekuatannya terletak pada aqidahnya. Seperti yang kita saksikan ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab pertanyaan yang berkenan dengan jumlah, maka beliau jawab : "Bahkan ketika itu kalian banyak sekali, akan tetapi kalian seperti buih di atas aliran air".
Kemudian apa yang menjadikan "pohon yang akarnya menghujam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit" itu seperti buih yang mengambang di atas air ?
Sesungguhnya racun yang meluruhkan kekuatan kaum muslimin dan melemahkan gerakannya serta merenggut barakahnya bukanlah senjata dan pedang kaum kafir yang bersatu untuk membuat makar terhadap Islam, para pemeluknya dan negeri-negerinya.
Akan tetapi adalah racun yang sangat keji yang mengalir dalam jasad kaum muslimin yang disebut oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai "Dakhanun"
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari XIII/36 mengartikannya dengan hiqd (kedengkian), atau daghal (penghianatan dan makar), atau fasadul qalb (kerusakan hati). Semua itu mengisyaratkan bahwa kebaikan yang datang setelah keburukan tersebut tidak murni, akan tetapi keruh.
Dan Imam Nawawi dalam syarh Shahih Muslim XII/236-237, mengutip perkataan Abu 'Ubaid yang menyatakan bahwa arti dakhanun adalah seperti yang disebut dalam hadits lain.
"Artinya : Tidak kembalinya hati pada fungsi aslinya". (Riwayat Abu Dawud no. 4247)
Sedangkan makna aslinya adalah apabila warna kulit binatang itu keruh/suram. Maka seakan-akan mengisyaratkan bahwa hati mereka tidak bening dan tidak mampu membersihkan antara yang satu dengan yang lain.
Kemudian berkata Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah XV/15: Bahwa sabda beliau : "Dan didalamnya ada Dakhanun, yakni tidak ada kebaikan murni, akan tetapi didalamnya ada kekeruhan dan kegelapan".
Adapun Al 'Adzimul Abadi dalam 'Aunil Ma'bud XI/316 menukil perkataan Al-Qari yang berkata : "Asal kata dakhanun adalah kadurah (kekeruhan) dan warna yang mendekati hitam. Maka hal ini mengisyaratkan bahwa kebaikan tersebut tercemar oleh kerusakan (fasad)".
Dan sesungguhnya penanam racun yang keji dan menjalar di kalangan umat ini tidak lain adalah oknum-oknum dari dalam sendiri.
Seperti yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Mereka adalah dari kalangan bangsa kita dan berbahasa dengan bahasa kita". Berkata Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari XIII/36 : "Yakni dari kaum kita, berbahasa seperti kita dan beragama dengan agama kita. Ini mengisyaratkan bahwa mereka adalah bangsa Arab".
Sedangkan Al-Qabisi menyatakan -seperti dinukil oleh Ibnu Hajar- secara lahir maknanya adalah bahwa mereka adalah pemeluk dien (agama) kita, akan tetapi batinnya menyelisihi. Dan kulit sesuatu adalah lahirnya, yang pada hakikatnya berarti penutup badan". Mereka mempunyai sifat seperti yang dikatakan dalam hadits riwayat Muslim.
"Artinya : Akan ada di kalangan mereka orang yang berhati iblis dengan jasad manusia". (Riwayat Muslim)
Yakni mereka memberikan harapan-harapan kepada manusia berupa mashalih
(pembangunan), siyadah (kepemimpinan) dan istiqlal (kemerdekaan dan kebebasan) ..
dan umat merasa suka dengan propaganda mereka. Untuk itu mereka mengadakan pertemuan-pertemuan, muktamar-muktamar dan diskusi-diskusi. Oleh sebab itu mereka diberi predikat sebagai da'i atau du'at -dengan dlamah pada huruf dal- merupakan bentuk jama' dari da'a yang berarti sekumpulan orang yang melazimi suatu perkara dan mengajak serta menghasung manusia untuk menerimanya. (Lihat 'Aunil Ma'bud XI/317).
3. Jama'ah minal Muslimin dan bukan Jama'ah Muslimin/'Umm.
Kalau kita mengamati kenyataan, maka kita akan melihat bahwa faham hizbiyah (kelompok) telah mengalir di dalam otak sebagian besar kelompok yang menekuni medan da'wah ilallah, dimana seolah-olah tidak ada kelompok lain kecuali kelompoknya, dan menafikan kelompok lain di sekitarnya. Persoalan ini terus berkembang, sehingga ada sebagian yang menda'wahkan bahwa merekalah Jama'ah Muslimin/Jama'ah 'Umm (Jama'ah Induk) dan pendirinya adalah imam bagi seluruh kaum muslimin, serta mewajibkan berba'iat kepadanya. Selain itu mereka mengkafirkan sawadul a'dzam (sebagian besar) muslimin, dan mewajibkan kelompok lain untuk bergabung dengan mereka serta berlindung di bawah naungan bendera mereka.
Kebanyakan mereka lupa, bahwa mereka bekerja untuk mengembalikan kejayaan Jama'atul Muslimin. Kalaulah Jama'atul Muslimin dan imam-nya itu masih ada, maka tidaklah akan terjadi ikhtilaf dan perpecahan ini dimana Allah tidak menurunkan sedikit pun keterangan tentangnya.
Sebenarnya para pengamal untuk Islam itu adalah Jama'ah minal muslimin (kumpulan sebagian dari muslimin) dan bukan Jama'atul Muslimin atau Jama'atul 'Umm (Jama'ah Induk), karena kaum muslimin sekarang ini tidak mempunyai Jama'ah ataupun Imam.
Ketahuilah wahai kaum muslimin, bahwa yang disebut Jama'ah Muslimin adalah yang tergabung didalamnya seluruh kaum muslimin yang mempunyai imam yang melaksanakan hukum-hukum Allah. Adapun jama'ah yang bekerja untuk mengembalikan daulah khilafah, mereka adalah jama'ah minal muslimin yang wajib saling tolong menolong dalam urusannya dan menghilangkan perselisihan yang ada diantara individu supaya ada kesepakatan di bawah kalimat yang lurus dalam naungan kalimat tauhid.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari Rahimahullah yang menyatakan : "Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa Jama'ah adalah Sawadul A'dzam. Kemudian diceritakan dari Ibnu Sirin dari Abi Mas'ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika 'Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jama'ah, karena Allah tidak akan mengumpulkan umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah satu firqah. Hindarilah semua firqah itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan".
4. Mejauhi Semua Firqah
Dinyatakan dalam hadits Hudzaifah tersebut supaya menjauhi semua firqah jika kaum muslimin tidak mempunyai jama'ah dan tidak pula imam pada hari terjadi keburukan dan fitnah. Semua firqah tersebut pada dasarnya akan menjerumuskan ke dalam kesesatan, karena mereka berkumpul di atas perkataan/teori mungkar (mungkari minal qaul) atau perbuatan mungkar, atau hawa nafsu. Baik yang mendakwahkan mashalih (pembangunan) atau mathami' (ketamakan) dan mathamih (utopia). Atau yang berkumpul di atas asas pemikiran kafir, seperti; sosialisme, komunisme, kapitalisme, dan demokrasisme. Atau yang berkumpul di atas asas kedaerahan, kesukuan, keturunan, kemadzhaban, atau yang lainnya. Sebab mereka semua itu akan menjerumuskan ke dalam neraka Jahannam, dikarenakan membawa misi selain Islam atau Islam yang sudah dirubah ...!
5. Jalan Penyelesaiannya
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada Hudzaifah untuk menjauhi semua firqah yang menyeru dan menjerumuskan ke neraka Jahannam, dan supaya memegang erat-erat pokok pohon (ashlu syajarah) hingga ajal menjemputnya sedangkan ia tetap dalam keadaan seperti itu.
Dari pernyataan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
Pertama.Bahwa pernyataan itu mengandung perintah untuk melazimi Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafuna Shalih. Hal ini seperti yang diisyaratkan dalam
hadits riwayat 'Irbadh Ibnu Sariyah.
"Artinya : Barangsiapa yang masih hidup diantara kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan barangsiapa yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa'ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian". (Riwayat Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 440 dan yang lainnya)
Jika kita menggabungkan kedua hadits tersebut, yakni hadits Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu 'anhu yang berisi perintah untuk memegang pokok-pokok pohon (ashlu syajarah) dengan hadits 'Irbadh ini, maka terlihat makna yang sangat dalam. Yaitu perintah untuk ber-iltizam pada As-Sunnah An-Nabawiyah dengan pemahaman Salafuna As-Shalih Ridlwanalahu Ta'ala 'alaihim manakala muncul firqah-firqah sesat dan hilangnya Jama'ah Muslimin serta Imamnya.
Kedua.
Di sini ditunjukkan pula bahwa lafadz (an ta'adhdha bi ashli syajarah) dalam hadits Hudzaifah tersebut tidak dapat diartikan secara dzahir hadits. Tetapi maknanya adalah perintah untuk berpegang teguh, dan bersabar dalam memegang Al-Haq serta menjauhi firqah-firqah sesat yang menyaingi Al-Haq. Atau bermakna bahwa pohon Islam yang rimbun tersebut akan ditiup badai topan hingga mematahkan cabang-cabangnya dan tidak tinggal kecuali pokok pohonnya saja yang kokoh. Oleh karena itu maka wajib setiap muslim untuk berada di bawah asuhan pokok pohon ini walaupun harus ditebus dengan jiwa dan harta. Karena badai topan itu akan datang lagi lebih dahsyat.
Ketiga.
Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengulurkan tangannya kepada kelompok (firqah) yang berpegang teguh dengan pokok pohon itu untuk menghadapi kembalinya fitnah dan bahaya bala. Kelompok ini seperti disabdakan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam akan selalu ada dan akan selalu muncul untuk menyokong kebenaran hingga yang terakhir dibunuh dajjal.
Maraji' :
Al Ilzamat wa at Tatabu oleh Ad-Daruquthni
Tafsir Al-Qur'an Al-Adzim, oleh Ibnu Katsir
Al Jami' As Shahih, oleh Bukhari dengan Fathul Bari
Haliyatul Auliya' oleh Abu Na'im Al- Ashbahani.
Silsilah Al-Hadits As-Shahihah, oleh Muhammad Nashiruddien Al-Albani
As-Sunnan, oleh Ibnu Majah
As-Sunnan, oleh Abu Dawud
As-Sunnan, oleh Tirmidzi
Syiar A'lam An-Nubala, oleh Adz-Dzahabi
Syarhu Sunnah, oleh Baghawi
As-Shahih, oleh Muslim bin Al-Hujjaj
'Aunil Ma'bud, oleh Syamsul Al-Abadi
Al-Kaasyif, oleh Dzahabi
Al-Mustadrak, oleh Hakim
Al-Musnad, oleh Ahmad bin Hambal
Tulisan ini disadur dan diringkas dari kutaib yang berjudul "Qaulul Mubin fi Jama'atil Muslimin" karangan Salim bin 'Ied Al-Hilali, Penerbit Maktab Islamy Riyadh tanpa tahun, dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 07/1/1414-1993 hal. 8-13
copy dari: ustaz.blogspot.com
Wasiat Ali bin Abi Thalib kepada Kumail bin Ziyad bin Nahik An-Nakh’i
Kumail bin Ziyad berkata: Ali bin Abi Thalib pernah menarik tanganku dan mengajakku kesisi sebuah jaban (tanah datar diketinggian yang subur). Setelah kami muncul di
Wahai Kumail bin Ziyad!!!
Hati ibarat kantong, maka yang paling baik adalah yang paling bisa menjaga ingatan. Ingat-ingatlah apa yang saya katakana kepadamu, manusia itu ada 3 macam:
Pertama adalah ulama Robbani
Kedua adalah orang yang berjalan di atas jalan keselamatan dan
Ketiga adalah manusia liar yang tidak mengenal aturan, yang mengikuti setiap penyeru terhempas kemana arah angina bertiup, tidak diterangi oleh cahaya ilmu serta tidak bersandar pada tiang yang kokoh.
Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta engkaulah yang menjaganya. Ilmu itu berkembang jika diamalkan sedangkan harta menjadi berkurang jika dibelanjakan. Kecintaan kepada ulama merupakan bagian dari agama yang harus dilaksanakan.
Dengan ilmu menjadikan pemiliknya menjalankan ketaatan selama hidupnya, dan mejadikannya buah bibir setelah kematiannya, sedangkan harta akan hilang beserta kematiannya.
Sesungguhnya saya di sini (beliau menunjuk kearah dadanya) ada ilmu, jika saya benar ada beberapa tipe orang yang berilmu:
Adapula orang yang mengikuti pelaku kebenaran tetapi ia tidak mempunya ilmu mengenainya untuk melestarikan kehidupannya. Keraguan akan muncul di hatinya begitu syubhat pertama menghalanginya. Ini tidak dan itupun bukan. Ia tidak mengerti dimanakah kebenaran. Jika ia berkata ia salah, dan jika bersalah ia tidak mengetahui. Ia merindukan sesuatu yang ia tidak mengetahui hakikatnya. Ia merupakan ujian bagi sebagian orang yang diuji dengannya.
Yang benar-benar baik adalah siapa yang telah dikenalkan oleh Alloh kepada agama-Nya. Cukuplah seorang itu dikatakan bodoh jika tidka mengenal agamanya, rakus dengan kenikmatan dan mudah dikendalikan oleh hawanafsu atau terpikat untuk menyimpan dan mengumpulkan harta. Keduanya tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang mendakwahkan agama dan lebih mirip dengan binatang ternak.
Demikian pula, ilmu itu mati dengan kematian para ulama.
Benar, ya Alloh, tidak ada bumi kosong dari orang yang menegakkan hujjah-hujjah Alloh dan keterangan-keterangan itu tidak dibantah, merekalah orang-orang yang secara jumlah sedikit, tetapi nilai mereka dihadapan Alloh sangatlah besar. Dengan mereka Alloh membela hujjah-hujjah-Nya sehingga mereka menyampaikan kepada orang-orang yang semisal dengannya dan menanamkan dihati orang-orang yang semisal dengannya. Ilmu telah membukakan hakekat perkara kepada mereka, sehingga mersa mudah dengan apa yang dianggap sukar oleh orang-orang yang melampui batas dan menyukai apa yang dibenci oleh orang-orang yang bodoh. Yakni orang yang bersahabat dengan dunia dengan jasad yang ruhnya terikat dengan pemandangan yang paling tinggi. Mereka para ulama penegak hujjah itulah para khalifah Alloh dierinya dan para da’I yang mendakwahkan agama-Nya.
Betapa rinduku untuk melihat mereka. Aku memohon kepada Alloh untuk diriku dna dirimu. Jika kamu ingin berdirilah.&
Dikeluarkan oleh abu nuaim dalam hiliyatul Auliya’ (I:79-80). Melaluinya al-khatib al-baghdadi mengeluarkan dalam al-faqih wal mutafaqih(I:49-50)
(sumber: man washayas salaf oleh syaikh salim bin ‘id al hilali)